Blog

Banjir dan Longsor Langganan Jawa Barat


Banjir Garut kembali menjadi tambahan pembelajaran bagi Indonesia umumnya dan Jawa Barat khususnya. Jawa Barat adalah wilayah yang kerap dilanda banjir dan longsor. Hal ini disebabkan karena wilayah ini pada umumnya mempunyai curah hujan tinggi sepanjang tahun dan mempunyai karakteristik topografis yang relatif berbukit dan bergunung ditambah lagi dengan ekspansi aktivitas manusia ke wilayah “hijau” (misal: hutan) untuk permukiman dan perluasan pertanian termasuk aktivitas manusia “menjarah” sumberdaya di bawah permukaan (ground water). Ini akan semakin mempertinggi dan mempercepat “proses” bencana tersebut.

Apakah teknologi dapat membantu manusia dalam memberikan peringatan dini (early warning system)? Tentu bisa! Jaman sekarang adalah hal yang mudah untuk membangun sistem yang dimaksud. Mulai dari deteksi banjir sederhana (http://agustinus-david.blogspot.co.id/2014/08/cara-membuat-pendeteksi-banjir-sederhana.html) sampai pada sistem terintegrasi yang cukup kompleks untuk longsor (http://pubs.usgs.gov/fs/2012/3008/contents/FS12-3008.pdf).

Aspek lain yang jauh lebih penting adalah bagaimana sistem deteksi atau peringatan dini tersebut dapat menjadi “mitra” manusia yang dalam sehari-harinya senantiasa dijaga dan dipelihara sehingga secara berkelanjutan dapat berfungsi dengan baik. Inisiatif pemerintah daerah dalam menginstalasi perangkat tersebut juga menjadi faktor penting karena hal ini tidak melulu harus diselesaikan oleh pemerintah pusat. Pemerintah daerah justru sangat berkepentingan dalam hal ini karena proses pembangunan harus dicermati pula dari aspek kebencanaan. Bagaimana dengan Jawa Barat?

Sampai saat ini belum ada sebuah sistem yang diadopsi untuk kepentingan tersebut. Padahal Jawa Barat kerap langganan banjir dan longsor. Hampir selalu dipastikan di wilayah ini terjadi banjir dan longsor baik dalam skala kecil maupun skala besar yang mengakibatkan kerugian materi maupun korban jiwa. Tentu ini akan menjadi pertanyaan besar bagi pemerintah daerah, sejauh mana mereka melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi dan lembaga terkait dalam hal penanganan banjir dan longsor? Beberapa perguruan tinggi terbaik negeri ini berada di wilayah Jawa Barat. Tentunya mereka sudah punya catatan-catatan ilmiah terkait fenomena banjir dan longsor serta bagaimana mereka melakukan kerjasama dengan pemerintah daerah dalam merealisasikan instalasi sistem yang dimaksud. PR buat pemerintah daerah, perguruan tinggi, sektor swasta dan stakeholders terkait lainnya untuk menangani banjir dan longsor pada masa mendatang.


 

 

 

Semakin sulit mendapatkan makanan bersih dan bergizi

Berita tentang ditemukannya berton-ton ikan berformalin di pelabuhan Muara Angke dan Muara Baru semakin mengkhawatirkan konsumen pecinta ikan. Jadi, ikan yang selama ini dikonsumsi oleh penduduk Jakarta (dan sangat memungkinkan penduduk di luar Jakarta) adalah ikan berformalin? Mudah-mudahan tidak!

Berita ini semakin membuat masyarakat pasrah akan mengkonsumsi makanan khususnya ikan. Padahal menurut literatur ikan mengandung zat dan vitamin yang sangat dibutuhkan dalam perkembangan tubuh dan menjaga kebugaran tubuh. Harus bagaimana lagi kita bisa menjaga “keamanan” makanan tersebut? Yang dirugikan tetap konsumen.

Atau kita lakukan perubahan “perilaku” kita terhadap makanan? Apakah bisa kita menghentikan konsumsi makanan di luar rumah? Artinya kita tidak akan lagi membeli makanan selain makanan dari rumah? Apakah bisa? Setidk-tidaknya untuk sarapan dan makan siang, kita bisa melakukannya. Sarapan bisa di rumah, dan untuk makan siang kita bawa “bento” (ala Jepang) ke tempat kerja masing-masing dan juga untuk anak-anak kita. Wah, betapa repotnya seiisi rumah kalau kita secara mendadak melakukan perubahan tersebut.

Coba anda perhatikan warung-warung di pinggir jalan, cermati tempat cuci piringnya! Anda bisa simpulkan apa yang terjadi. Atau ke restoran sekalipun, tengok dapurnya. Apa yang akan anda lihat? Belum lagi jaminan terhadap bahan makanannya. Bisa jadi ikan segar, bakso enak, dan aneka daging yang ada berformalin semua!

Tapi apa daya, daripada tidak makan, akhirnya kita santap semua makanan yang sangat diragukan kebersihan, kandungan gizi dan kesegarannya. Mungkin kita akan bisa membangun sebuah generasi pada masa mendatang dimana budaya membawa “bento” (bekal makanan) ke sekolah atau ke tempat kerja dapat dilaksanakan secara rutin. Dan saat itu pula generasi yang sehat, segar dan ceria akan tercipta. Pasti bisa!

Jessica dan Pilkada DKI 2017

Beberapa bulan terakhir tahun 2016 ini, hampir dipastikan persidangan Jessica dan dinamika usung mengusung Cagub-Cawagub DKI untuk Pilkada 2017 mendominasi berita hampir di semua media khususnya media elektronik (TV). Bahkan sering persidangan dan acara usung mengusung disiarkan secara live! Bahkan rekan saya yang tadinya tidak suka nonton TV, sekarang menjadi pemirsa TV yang tertib untuk mengikuti persidangan Jessica. Katanya semakin seru! Sedangkan di grup media sosial yang saya ikuti, hampir dipastikan membahas Pilkada DKI, semua merasa seperti pengamat (*smile*).

Kalau kita cermati, ternyata persidangan Jessica memberikan konten pengetahuan yang cukup dalam. Pengetahuan tentang sianida, forensik, digital forensik, otopsi, psikologis dan terminologi lainnya semakin menjadi gamblang pada persidangan Jessica disamping istilah-istilah hukum pidana yang semakin mencerdaskan pemirsa. Begitu pula halnya dengan adu taktik dan strategi usung mengusung Cagub-Cawagub DKI, dimulai dari Teman Ahok dan partai politik sampai kelompok-kelompok independen lainnya. Ini juga memberikan pelajaran politik yang sangat berharga bagi masyarakat awam, terlepas dari intrik-intrik kurang terpuji dari masing-masing pihak.

Jessica dan Pilkada DKI menjadi ajang pencerdasan masyarakat awam tentang hukum dan politik. Tidak hanya itu saja, kita juga semakin dewasa untuk memposisikan diri dan tentunya kekuatan obyektivitas kita berpikir sangat diuji dalam menyikapi kedua hal tersebut. Terimakasih Jessica dan Pilkada DDKI 2017, semoga ending nya akan memberikan rasa nyaman dan senyum penuh arti bagi kita semua. Selamat bekerja!

Bandung 28 September 2016

Selamat pagi kawan-kawan semuanya! Hari ini, Rabu 28 September 2016, cuaca Bandung dan sekitarnya agak berbeda dibanding hari biasanya, karena terasa agak dingin. Ketika berjalan di kampus Ganesha, terasa udara dingin akan menerpa dan mengalir di sekujur tubuh. Menurut para ahli, musim hujan untuk tahun ini akan lebih cepat datangnya. Dan memang benar, Bandung sudah seperti berada pada rentang waktu musim hujan. Seringkali hujan saat sore, malam, subuh bahkan rintik-rintik saat pagi hari. Mungkin kondisi ini terakumulasi beberapa hari terakhir sehingga Bandung pada Rabu 28 September 2016 terasa lebih dingin dan berbeda dengan hari lainnya.

Selamat Pagi Dunia!

Akhirnya saya kembali lagi menulis di Blog. Dulu, pernah punya blog, tapi tiba-tiba “terhapus” begitu saja. Nah, hari ini, Rabu 27 September 2016 saya memulai hobi saya lagi yaitu menulis. Nama blog ini “Bunga Rampai Ketut Wikantika” karena saya yakin kehidupan itu butuh “warna” dan saya ingin memberi “warna” tersebut ke semua orang. Semoga terinspirasi dengan tulisan saya, dan kawan-kawan akan menjadi lebih hidup dan berwarna dengan tulisan saya…